SPACE / SCAPE project

SPACE / SCAPE project header image 4

Warung Kidul di Alun-alun Selatan

November 27th, 2009 by nuning
Respond

Tanggal 24 dan 25 November 2009 yang lalu, secara diam-diam, telah dilaksanakan proyek Teater tak Terlihat : Warung Kidul. Teater yang merupakan salah satu rangkaian proyek Space/Scape ini, mengambil gagasan sebuah bentuk warung dagangan tanpa pedagang. Pembeli diharapkan membayar “jumlah yang sesuai” dengan label harga yang tertera pada daftar.

Ide instalasi ini tidak hanya menyoal nilai jujur atau tidak jujur, tapi lebih pada proses kontrol dan pengawasan yang berlangsung di bawah tatapan mata orang sekitar. Berikut adalah dokumentasi foto selama proyek tersebut berlangsung.

No Comments.

Monumen Cinta

November 24th, 2009 by nuning
Respond

Salah satu bagian dari rangkaian acara “ALUN-ALUN SELATAN: CERITA RUANG BERSAMA”, yaitu Monumen Cinta, dimulai pada malam ini, 24 November 2009, pukul 18.00 WIB. Proyek ini menampilkan instalasi dua monumen cinta, dimana pengunjung bisa berpartisipasi langsung dengan menyumbangkan kenangan, foto, dan cerita “cinta” masing.  Selain merespon intalasi monumen cinta, pengunjung juga bisa mengikuti permainan “Cari Pasanganmu” dengan menggunakan penutup mata.

Bagi yang ingin berpartisipasi dapat langsung datang ke alun-alun selatan, besok, Rabu, 25 November 2009, pukul 18.00 WIB. Berikut adalah foto-foto dokumentasi dari proses berlangsungnya proyek “Monumen Cinta”.

No Comments.

Halo… Hindra Berkisah Masangin bersama Pak Gatot

November 24th, 2009 by nuning
Respond

Pada hari Sabtu, 21 November 2009, telah dilaksanakan salah satu proyek dari rangkaian acara “ALUN-ALUN SELATAN: CERITA RUANG BERSAMA”, yaitu “Halo… Hindra Berkisah Masangin bersama Pak Gatot”.

Acara yang dilaksanakan pada pukul 19.00-21.00 ini sempat terhenti karena gerimis. Namun hujan tidak menyurutkan semangat Pak Gatot dan Hindra untuk menceritakan kisah-kisah masangin pada para pengunjung alun-alun selatan, malam itu. Berikut adalah beberapa foto selama acara ini berlangsung.

No Comments.

Alun-alun Selatan: Cerita Ruang Bersama

November 14th, 2009 by ferdi
Respond

kunci-space-scape-project-poster2

Alun-alun Selatan: Cerita Ruang Bersama

Presentasi KUNCI  Space/Scape project

Saatnya kita untuk bertemu dan berbagi cerita bersama tentang penjelajahan dan pengalaman di/tentang ruang Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Kolaborasi anda dalam rangkaian peristiwa ini ialah kunci menuju ragam kemungkinan bentuk dan pengalaman ruang bersama di masa kini dan masa depan.
Seri presentasi proyek KUNCI SPACE/SCAPE ini akan diawali Kamis, 19 November 2009 mulai jam 7 malam di dekat Ringin Kurung Alun-alun Selatan dengan Hindra yang berkisah tentang Masangin bersama Pak Gatot. Sepanjang akhir bulan November ini pula sering-seringlah mampir ke lokasi agar bisa menjadi bagian peristiwa-peristiwa kolektif lainnya sedang terbentuk di sini. Seluruh rangkaian peristiwa dan perjumpaan ini akan diberi “pungtuasi”-kalau bukan ditutup, dalam Presentasi Kolektif yang dijadwalkan berlangsung hari Sabtu, 28 November 2009, mulai jam 7 Malam di Alun-alun Selatan.

Menuju Alun-alun Selatan, Mari!

“Alun-alun Selatan: Cerita Ruang Bersama” merupakan hasil kerjasama KUNCI Cultural Studies Center dan Yayasan Teater Garasi dan atas dukungan Arts Network Asia.

Info:
Email: editor@kunci.or.id
Phone: +62274414231
Web: space.kunci.or.id

“South Alun-alun: Shared-Space, Sharing Story”

Now is the time for us to meet and share stories of exploration and experiences on/of South Alun-alun, Yogyakarta. Your collaboration in the series of events would be one key towards the many possibilities of formation and expereinece of shared-space in the present as well as the future time.
KUNCI SPACE/SCAPE project presentation will commence on Thursday, 19 Nov, starting 7 pm with Hindra and Mr Gatot Tell About Masangin at South Alun-alun. Along the last week of November also, drop by as often as you can here, so you can be a part of other unfolding evenst within the vicinity, The series of events and encounters will be “punctuated” -if not completed, in the “Collective Presentation” scheduled for Saturday, 28 Nov 2009, starting 7 PM. So,

It all Comes Together in South Alun-alun

South Alun-alun: Shared-Space, Sharing Story, is a organized by KUNCI Cultural Studies Center in collaboration with Teater Garasi and with supports from Arts Network Asia.

Collaborators:
AGN. “Jompet” Kuswidananto, Agung Nugraha Widhi, Anang Saptoto, Citra Pratiwi, Erythrina Baskoro, Verry B. Handayani, Ferdiansyah Thajib, Hindra Setyarini, Jamaluddin Latif, Maryanto, Muhammad A.B., Nuraini Juliastuti, Syafiatudina, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Wimo Ambala Bayang , Yoshi Fajar Kresna Murti, Yudi Ahmad Tajudin, denizens and visitors of South Alun-alun.

No Comments.

Elephants Gone Missing! (Part 2)

November 12th, 2009 by ferdi
Respond

Seberapa penting kehadiran gajah di Alun-alun selatan? Berikut petikan dari wawancara yang kami lakukan sepanjang April-November 2009:

Sebagai pedoman arah dan rujukan peristiwa

Nur Ani: ya aku kan pulang kerja. Padahal sama Diky (anaknya) itu, ya tapi kan nggak dialun-alun. Kebetulan kan aku lewat Alkid itu, Aku kan muterin alun-alun situkan. Pas malam minggu. Aku tuh tahu kalo di belakangku itu ada Mio. Aku kan pulangnya lewat Langenastran. Pas di tempat gajah itu aku mau belok ke barat, aku merasa di situ kok seperti ada yang mbuntutin aku. Tak pikir kan orang situ. Nah kebetulan di situ sedang ada orang kerengan (berkelahi).

Roy: Ya jadian sama istri saya. Di situ kaki lima kan banyak Mbak, di sebelah ujung pojok wetan kulon, sananya Gajah, timur e anu selatan Gajah. Ya pinggir jalan situ. Masih inget.

Bambang: Aku melihat  tawuran antar Gank Motor di depan Gajah. Malam hari setelah lewat jam 9. kemudian polisi datang dan membawa beberapa orang dari mereka.

Mella: Dulu aku sering bingung, sama bangunan yang sekarang jadi kandang gajah, karena waktu itu belum ada gajahnya. Aku lewat sambil berfikir, ini bentuknya seperti rumah, tapi ini rumah buat apa, kenapa atapnya tinggi sekali, macam-macamlah. Aku sering tanya ‘itu buat apa sih itu, karena seperti tinggi dan bolong, kalau buat manusia terlalu besar’, Sampai tahun 89-90an aku baru ngerti kenapa bangunannya seperti itu karena diisi sama gajah, bangunannya pas gitu. Di Sultan X gajah itu baru ada, sebelumnya nggak ada.

Mbak Jeni : Pengalaman yang paling menakutkan itu, pernah Mbak, temanku itu kesambar gledek itu namanya almarhum Mbak Sudi. Kejadiannya itu di bawah ringin itu (ringin depan kandang gajah). Saya sampai berhenti jualan sampai setahun, ngeri Mbak. Itu teman saya sendiri Mbak, waktu itu kalau nggak salah bulan Agustus, pas musim hujan besar-besarnya. Waktu itu dia pas jualan juga, jualan mainan, hari minggu siang, dia langsung meninggal.

Sebagai Pelaku Peristiwa itu sendiri:

Mbah Maidji: Waktu itu Gajahnya ada 2, yang mbok’e ki ngelahirin, terus mati, Mbok’e Gajah kui mati. Ceritane waktu itu hari minggu, biasa tho dinaiki sama anak-anak kuwi, terus Senin-e sakit. Terus dia disuntik, langsung ndeprok. Pas mau dikubur itu yang jantannya nangis, keluar air matanya. Disini itu kayak ada orang sripahan, disini buanyaak banget orang dateng. Disini ada lek-lekan segala, slametan juga. Si gajah yang jantan itu dijodohin sama gajah Gembira Loka, nggak mau. Sampai sekarang cuma berdua sama anaknya. ..Yang kedua, belum lama, masih tahun ini kok, waktu itu saya lagi jualan di pojokan kandang. Saya tiba-tiba didatangi orang katanya dia orang Wonosari, dia sakit ga sembuh-sembuh udah lama. Terus dia berobat ke orang. Pesannya itu dia harus nyari kutu gajah buat obat. Katanya itu bisa menyembuhkan, karna gajahnya juga bukan sembarang gajah, Terus saya antar ke pawang gajahnya, ya dia masuk ke kandang ambil kutu itu.

Devie: Aku ngajak Naya naik gajah di Alun-Alun Selatan dua kali. Pertama kali aku ajak dia aku agak pesimis karna Naya peka sama suara, dia kalau dengar suara ramai sering rewel. Aku pertama kali ke sana sama Naya nyoba naik gajah, ternyata Naya senang. Dia anteng naik gajah, aku juga ikutan, duduk di belakang dia. Aku senang sekali ngelihat dia kelihatannya senang naik gajah sambil ngelihat alun-alun, karena biasanya dia rewel di tempat ramai. Aku senang sekali di hari itu karna pertamakalinya Naya senang di tempat ramai. Kemudian, beberapa bulan setelah itu, aku libur dan aku mengajak Naya ke Alun-alun Selatan untuk naik gajah lagi. ‘Nay, ke alun-alun yuk, kita naik gajah lagi?’ Dia senang sama ajakanku itu. Kita sampai dan langsung menuju ke tempat Gajah. Ternyata lebih ramai dari pertama kali aku kesana, kami antri agak lama. Kemudian, sampai giliran kami. Naiklah kami ke atas gajah. Belum selesai putaran pertama, gajah itu tiba-tiba bunyi sambil kupingnya goyang-goyang. Langsung deh Naya nangis kenceng banget dan dia minta turun. Yah, udah deh Naya ga suka lagi naik gajah. Kalau aku lewat alun-alun sama Naya, Naya jadi takut sama gajah itu.

Mbak Wiwied: Aku kan dagang disini udah 5 tahun. Banyak nggak enaknya Mbak, pernah waktu itu, ada yang nawar e.. gajahnya malah buang kotoran, kan bau tho Mbak, ya ga jadi beli deh dia. Terus pernah lagi, ada yang nawar, dia jongkok, gajahnya lewat, dia kesabet ekor gajah, terus pada lari, ya itu dagangannya keinjak-injak. Pernah ada yang coba ngasih makan gajah, mungkin belum kenal, jadi belum terbiasa, dia dilempar cumplung (sabut kelapa) sama gajahnya. Gajah kan lewat sini cuma kalau sore, pernah kayaknya gajahnya baru minum, terus dia nyembur air, ya udah dagangannya basah semua. Tapi ya pedagang kan nggak boleh menyalahkan hewan. Yang laki-laki itu namanya Argo, yang agak nakal itu yang kecil itu. Kita yang dagang disini sering dapat teguran untuk jaga kebersihan karena dulu yang betina mati karena makan plastik. Ini saya gabung di paguyuban, saya ada kaosnya Mbak, ada gambar gajahnya. Tiap minggu ada distribusi buat makanan gajah Rp 2000,- Makanan gajahnya daun tebu, terus bekas kelapa muda dari tukang degan yang udah nggak ada buah kelapanya, jerami, macam-macam. Pernah ada pengunjung lagi makan sate, ditampel sama telalainya.

1 Comment

Elephants Gone Missing! (Part 1)

November 12th, 2009 by ferdi
Respond

Kalau sekarang in (November 2009) anda ke melewati Alun-alun Selatan, perhatikan kandang gajah di sebelah barat lapangan. Mereka hilang!

Berikut adalah rekaman  yang dibuat agen kami, salah satu penampilan terakhir dari bapak (disinyalir bernama Argo) dan anak gajah (nama tidak diketahui):

Video by Nuraini Juliastuti, 30 Agustus 2009

*Sampai berita ini diturunkan salah seorang agen kami, yang lain, melaporkan cerita yang ia dengar dari salah seorang “abdi dalem Kraton” tidak lama setelah gajah tersebut hilang:

“Gajah-gajah itu dipindahkan ke kebun Binatang Gembira Loka, karena satu insiden belum lama sini di sekitara kandang gajah tersebut. Jadi waktu itu kendaraan yang ditumpangi salah seorang “petinggi kraton” yang terjebak kemacetan di depan Kandang Gajah, ketika supir mobil tersebut turun untuk menegur tukang parkir yang ada di sana karena tidak tertatanya parkiran di lokasi tersebut yang menyebabkan kemacetan, si tukang parkir tersebut menukas “Siapa kamu menyuruh saya menata kekacauan ini? Wong yang “punya tempat” saja tidak pernah menata!”
Mendengar sindiran tersebut, dari dalam mobil si petinggi kraton menurunkan jendela mobilnya sambil berkata “Ya sudah, kalau begitu mulai besok akan saya tata.”
Dan keesokan harinya kedua gajah itu sudah tidak ada di kandangnya lagi.

1 Comment

Geography of happy times

November 9th, 2009 by nuning
Respond

Each time I pass through the south square of this city (or Alun-alun Kidul–as the inhabitants of Yogyakarta would say, which then popularly abbreviated as “Alkid”), it seems to be moving and performing a constant of leisure activities (or are those hustle and bustle of happy times are revolving around Alkid because of the existence of the square?). Riding my motorbike across it in the morning, I see people jogging rounding the square, a group of old ladies performing Tai Chi (every Sunday particularly), here and there are queues for a plate of Nasi Kuning or Lontong Opor or Bubur Ayam for breakfast. The cheerfulness would become a bit dim during the day. However owners of some food stalls remain–in hopes of getting more customers during the lunch hour. And for some other people, sitting (and sometimes sleeping, and for those in pairs: they cuddling each other ) under the trees that are planted at various points of the square, and feel the breezy air on the hot day are a pleasant thing to do. When the sun begins to fade, Alkid is surrounded by street sellers of light meals–bakso, siomay, tempura, cimol, sup buah. Providers of amusement experiences offering a wide range of devices such as tricycle, cart, motorcycle (all in miniature) are set to servicing the visitors. Children accompanied by their parents or grandparents are frolicking on trying the attractions. People playing traditional blindfolding, they are trying hard to walk in between the banyan trees situated in the middle of the square…

Activities that might be grouped under the “leisure” label constitute the biggest proportion of the usage of the Alkid space. In attempt to explore the facade of the square, this writing is intended to draw the structure of the happy-times-activities performed. Further, it aims to give a plausible explanation of the production of such activities in Alkid, as well as describing the dynamics relationship between the space and the people.

Showing below are sketches of the routes of the amusement devices that I have been made during the research process.

nuns-masanginnuns-masangin02

nuns-becakmininuns-becakmini2nuns-sepedamini21nuns-keretamininuns-mobil2ankecilnuns-atv2nuns-andongmini

nuns-atv1

No Comments.

The City As Seen from the Trees

October 30th, 2009 by ferdi
Respond

Berikut adalah petikan yang diterjemahkan dari disertasi Laretna T. Adhisakti, 1997, “A Study on the Conservation Planning of Yogyakarta Historic-tourist City Based on Urban Space Heritage Conception, Kyoto University hal;85-92

4.4.2 Pilihan Tanaman dalam Seting Kota Bersejarah

[…] bentuk perkotaan juga menyatakan stratifikasi sosialnya terutama dapat diamati dari bangunan rumah tinggal. Bentuk-bentuk ini terdiri dari, pertama, bangunan yang dimiliki penguasa atau Sultan Yogyakarta, terdapat istana dan fasilitas pendukungnya seperti kebun wangi Taman Sari, alun-alun dsb.; kedua, bangunan rumah tinggal yang dimiliki keluarga bangsawan atau pejabat kerajaan,  seperti bupati, pejabat istana; dan terakhir, rumah biasa dan fasilitas urban untuk orang biasa.

Gambar diambil dari berbagai sumber di internet

Gambar diambil dari berbagai sumber di internet

  1. Kraton Yogyakarta

Pola urban kota istana Yogyakarta distrukturkan oleh beberapa komponen […]:

    1. Pal Putih di persimpangan sekitar 1,5 km dari alun-alun utara.
    2. Jalan utama yang menghubungkan Pal Putih dan Kraton, yang dikenal sebagai Jalan Malioboro
    3. “Benteng Balurweti” dan 5 gerbang
    4. Kraton
    5. Panggung Krapyak

Urutan komponen-komponen ini melambangkan kelahiran, masa dewasa, dan kematian dalam kehidupan manusia Jawa. Namun demikian ada dua konsep dalam membaca simbol-simbol ini, KPH Puspodiningrat, seorang pangeran, menjelaskan bahwa Pal Putih disimbolkan sebagai kelahiran dan tumbuh  di sepanjang jalan Malioboro. Pubertas berlangsung di Kraton dan menjadi ,masa dewasa di Panggung Krapyak. Sebaliknya, KPH Brongtodingingrat (1975), seorang pangeran, menyebutkan justru arah yang berlawanan, bahwa pertumbuhan manusia berasal dari Panggung Krapyak sampai ke Pal Putih. Pendapat ini disokong dalam buku “Tradisi Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diterbitkan Direktorat Jendral  Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1976. Penelitian dalam kajian ini tidak bermaksud membahas tentang konsep yang berlawanan ini, tapi mencoba lebih  memahami seting perkotaan dalam kaitannya dengan pilihan vegetasi di beberapa tempat tertentu.

[Read more →]

No Comments.

Miris nggak sih liat Alun-alun Utara Jogja?

October 12th, 2009 by ferdi
Respond

Kutipan dari: forum detik.com

Miris nggak sih liat Alun-alun Utara Jogja?
17th September 2007, 14:59
liat aja tuh keadaanya….
kering, berdebu, kotor, banyak orang gila-nya…
perlu pembenahan tuh, biar jadi tempat yg nyaman lg…

moefid
17th September 2007, 15:12
sepertinya dulu pernah ada rencana dibuat tempat parkir. jadi dibuat basement utk parkir dan diatasnya utk ruang publik (mirip alun2 bandung sekarang). Tapi entah rencana itu akan dilaksanakan atau tidak.

rayofshadow
18th September 2007, 04:24
terlalu sering lewat alun alun utara.. dan makin lama makin tidak menarik dan bikin prihatin.

Selain tanahnya gersang, juga banyak pedagang asongan disana, apalagi kalo lagi liburan ditambah banyaknya bus parkir, sebenernya kalo tertata rapi sih bole bole aja, enak di pandang, tapi kalo dah berantakan aduhhh gak enak banget di liatnya.

Alun alun selatan juga begitu, lama kelamaan seperti pasar malam saja kalo sore hari, apalagi malam minggu atau minggu sore.. wahhh ramenya gak ketulungan, mau lewat susah mau berhenti jengah.

Tempat publik di jogja yg enak buat nongkrong mana lagi yah? rasanya makin lama makin habis, atau jangan jangan tempat nongkrong yg ada sekarang tinggal Coffee shop sama Mall Mall doank :D boros boo…

*selama angkringan masih ada rasanya masih tetep adem ayem*


laluvirtual
18th September 2007, 07:28
sebenarnya kurang perhatian aja. pemdanya dibilangin tuh

dwipa789
18th September 2007, 10:56
Iya tuh, mendingan alun-alun utara n selatan tuh dijadiin paru-paru kota, ditanami pohon yang rindang, soalnya tingkat polusi udara di yogya juga sudah cukup tinggi

Cybershock
18th September 2007, 11:06
Ruang publik yg nyaman dan mumer sudah susah di Jogja, palingan cuman angkringan ma bbrp tempat lainnya. Sudah makin banyak mall di Jogja yg sebenarnya untuk menampung para high consumer pendatang baru di Jogja yg sudah biasa belanja di hypermarket. Nongkrong di mall aja sambil cuci mata kekeke… gak perlu belanja paling bayar parkir doank.

kelakuan
18th September 2007, 11:10
Ruang publik yg nyaman dan mumer sudah susah di Jogja, palingan cuman angkringan ma bbrp tempat lainnya. Sudah makin banyak mall di Jogja yg sebenarnya untuk menampung para high consumer pendatang baru di Jogja yg sudah biasa belanja di hypermarket. Nongkrong di mall aja sambil cuci mata kekeke… gak perlu belanja paling bayar parkir doank.

u got the point! ruang publik yg kaya alun2 utara dan selatan dibiarin merana nggak diurus, tp yang ruang non publik macam mall (yg notabene turut memacu budaya konsumerisme), malah diberi perhatian lebih
yah maklum, UUD sih (ujung2nya duit :D )


saheka
18th September 2007, 13:05
Lha…coba jangan untuk parkir, jangan untuk jualan, ditanami pohon rindang…rumputnya biar hidup.. dibuat taman….wah.. nggak kepikiran kali sama penguasa Jogja

Cybershock
18th September 2007, 13:52
Kebiasaan pemda mungkin hampir diseluruh wilayah Indonesia, selalu bertindak terlambat. Seperti pedagang kaki lima… baru digusur setelah bikin macet dan runyam, kek di ugm… dulu waktu masih sepi bbrp pedagang kaki lima ditertibkan gak ada ribut2. Setelah datang lagi ehh didiemin saja sampai bikin kusut gitu, kalo mo ditertibkan temennya dah banyak dan pasti menjadi kasus.

Ini dah mulai bakalan rame lagi neh di halaman sekitar korem, sekarang dah ada 1-2 PKL berjualan disitu, pihak korem masih diem2 aja (ntah kalo bayar penguasa disitu)… ntar kalo dah rame dan bikin gerah pada diberondong peluru kali kalo gak mo pada pindah.

untuk versi lengkap isi diskusi  forum ini, silahkan klik di sini.

No Comments.

Remaja dan Alun-alun

October 7th, 2009 by ferdi
Respond

Bagian ini memuat tentang dua proyek yang dibuat oleh remaja untuk topik yang terkait dengan Alun-alun.

Yang pertama adalah sebuah presentasi oleh kelompok Anis Abdillah dkk. mengenai peta Alun-alun Selatan yang mereka buat untuk proyek yang diselenggarakan dalam rangka proyek Unique Places in My Town di elanguages.org. Versi ppt dapat diunduh dari  sini atau  untuk versi pdf- nya silahkan klik tautan berikut: alkidd

Proyek kedua adalah hasil karya siswa-siswa SMA 1,3, dan 8,Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh  Asia Society’s Creative Voices of Islam. Sebagai pendamping adalah dua organisasi media anak muda : Appalshop (AS) dan Kampung Halaman (Indonesia). Silahkan klik di sini untuk melihat video berjudul “Believe-Beliefs” yang dibuat para remaja ini yang membahas tentang mitos dan takhayul, termasuk Masangin. Dalam situs ini pula anda bisa melihat diskusi online mengenai takhayul pada umumnya dan Masangin pada khususnya.

No Comments.