SPACE / SCAPE project

SPACE / SCAPE project header image 4

Semua Bertemu di Alun-alun Yogya:Kota Sebagai Kerja Imajinasi Bersama oleh Ferdiansyah Thajib

May 24th, 2010 by ferdi
Respond

Alun-alun Yogyakarta, adalah ruang di mana “semuanya” bertemu. Melampaui wujud fisiknya yang mempertemukan orang dan benda-benda, ia  menjadi simpul yang menjalin masa lalu dan masa kini. Kalau yang pertama tertanam dalam tegangan antara sejarah, simbol, kosmologi, tradisi dan kekuasaan, maka kini ia menjadi arena yang mengeraskan ketegangan antara praktik kewargaan,  fungsi tata kota, budaya, politik, laku spiritual, demokratisasi, kapital, dan/atau, lagi-lagi, kekuasaan. Melalui dua tanah lapang yang terletak di pusat kota ini, semestinya identitas sebuah kota seperti Yogyakarta bisa dikenali. Di lahan yang luasnya tak seberapa  ini (dibandingkan dengan ukuran kampus atau mall) seharusnya sebuah ruangan bersama warga kota ke masa depan bisa dibangun dan dilanjutkan. Seharusnya, karena tidak demikian yang terjadi.

Upaya-upaya menjelaskan sebuah ruang bersama seperti Alun-alun di kota-kota di Jawa, kerap terbentur dengan hiruk pikuknya pernyataan (non-fisik) dan/atau kenyataan (fisik) fenomena yang mau dihadapi. Kajian-kajian sosial yang ada mendapat kesulitan menyediakan analisa dan interpretasi yang kuat atas “kebenaran ruang” Alun-alun ini. Amatan sejarah misalnya, ketimbang berhasil merunutkan peristiwa-peristiwa yang menyusun ruang Alun-alun malah cenderung melebar ke lapis-lapis kelisanan fakta sejarah itu sendiri yang kerap hadir berlawanan. Kajian yang sifatnya arsitektural maupun geografis – baik yang menghendaki gambaran maupun penataan, lebih sering kelimpungan menghadapi bentangannya yang berubah dan bertambah begitu cepat. Upaya menelurkan pengetahuan tentang ruang yang dihidupi bersama: Alun-alun, kota, dan seterusnya, hanya mewujudkan entah gugusan kisah yang terlalu samar untuk disepakati sebagai sebuah “kenyataan” atau satu kerumunan besar yang tak pernah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tepat. Melebihi soal keterbatasan perangkat yang digunakan, adalah keragaman imajinasi tentang/ di Alun-alun itu sendiri yang nyaris tanpa batas dan peliknya hubungan antara imajinasi-imajinasi tersebut.

Memahami bahwa tampilan fisik Alun-alun yang tampak terbuka dan lengang bisa menjadi labirin cerita yang secara serentak menyesatkan sehingga tidak mungkin ditaklukkan dalam satu pencitraan “utuh” atasnya. Penjelajahan yang saya lakukan memilih berangkat dari ulasan-ulasan yang sifatnya terpencar-pencar dan acak, mengacu pada catatan-catatan lapangan dan teks yang interpretatif mulai dari naskah akademis, artikel koran, tulisan/opini di blog sampai dengan hasil wawancara. Meskipun saya menyadari bahwa gaya penulisan ini ini bisa jadi tidak lengkap dan terkesan ambigu, mudah-mudahan tujuan penulisan ini cukup jelas, yaitu mau melihat bagaimana beragam representasi (baca: tafsir atas) atas Alun-alun disandingkan di ruang yang sama, serta merembes ke dalam praktik hidup sehari-hari warga kota.

Sementara itu yang perlu dicatat, saya memahami bahwa Yogyakarta memiliki dua subyek ruang Alun-alun, Utara-Selatan, yang punya kondisi, ciri dan aspek keruangan yang meskipun saling berkaitan erat namun tumbuh dalam lintasan makna dan peristiwa yang berbeda, kalau bukan bertolakbelakang. Siasat yang saya kerahkan dalam proses pembacaan ini adalah bergerak ulang-alik di antara keberbedaan dan kesamaan yang menghubungkan kedua situs. Ini saya lakukan untuk menekankan bahwa pada gilirannya, dualitas geografis Alun-alun di sini turut menggenapkan terbaginya upaya untuk fokus pada fenomena ruang sosial yang dinamakan Alun-alun Yogyakarta. Untuk kebutuhan itu, selama tidak dibedakan dengan penggunaan nama Utara atau Selatan, Lor atau Kidul, kata ”Alun-alun” saya pakai dalam merujuk kedua tempat tersebut dalamberikut relasinya yang spesifik dan dinamis.

Sebagai panduan awal saya mengacu pada penjelasan Henri Lefebrve dalam The Production of Space (1993) tentang pengalaman sosial mengenai ruang selalu diperantarai oleh sistem pemaknaan dan simbol yang bekerja melalui imajinasi. Dengan demikian ada “ruang representasi” yang mengatasi “ruang fisik” yang secara langsung dihidupi melalui “citra dan simbol-simbolnya” dan yang mau “diubah dan diapropriasi” oleh kerja imajinasi (hal.45). Hubungan antara identitas dan tempat bukanlah perkara identifikasi wilayah belaka tapi juga tentang aliran imajinasi yang terkait dengan praktik sosial yang mengakar dalam ruang. Atau dengan kata lain, artikel ini pun melihat bahwa ruang bukan hanya menjadi ciri khusus praktik sosial saja, tapi juga wadah bagi imajinasi sosial (kota) bekerja.
[Read more →]

No Comments.

Di Kamar Gelap

May 24th, 2010 by ferdi
Respond

Dalam Kamar Gelap yang dirancang oleh sutradara teater Yudi Ahmad Tajudin, orang bisa “mengaku dosa”. Dalam ruang instalasi yang dipasang untuk publik dalam presentasi kolektif di Alun-alunSelatan  pada tanggal 28 November 2009 lalu, orang bisa menambahkan kisah paling pribadi yang mereka miliki di atau tentang Alun-alun. Oleh inisiatornya, karya ini menyasar pada rahasia-rahasia tergelap ke lokasi-lokasi tertentu, di tengah arus besar kolektif  yang mengisi ruang publik.

kg (8) by you.

kg (12) by you.

kg (13) by you.

Seperti yang bisa dilihat di gambar-gambar berikut ini, di salah satu dinding luar Kamar Gelap, Wimo A. Bayang menayangkan karya videonya yang mengisahkan tentang narasi-narasi aktual maupun fiktif tentang Alun-alun yang disampaikan juga oleh orang-orang yang juga aktual maupun fiktif. Karya ini merupakan hasil kolaborasi dengan , serta berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh, aktor-aktor Teater Garasi sejak Juli-November 2009. Karena durasi serta ukuran video yang relatif besar, karya tersebut tidak bisa diunduh dari situs ini. Namun jika tertarik untuk menonton atau mengopinya, anda bisa langsung datang ke kantor KUNCI  Cultural Studies Center di Jl. Nagan Lor 17a, Patehan, Kraton, Yogyakarta.

kg (14) by you.

kg (2) by you.

No Comments.

Peristiwa di Ruang Bersama

May 18th, 2010 by ferdi
Respond

lp (3) by you.

lp (5) by you.

lp (1) by you.

Live performance yang digelar oleh segenap aktor Teater Garasi di bawah koordinasi Sri Qadariatin di  acara Alun-alun Selatan : Cerita Ruang Bersama  merupakan pengembangan dari berbagai temuan lapangan hasil observasi serta rangkaian wawancara yang dilakukan dengan warga sekitar Alun-alun Selatan sepanjang April-November 2009.

jt (5) by you.

jt (3) by you.

jt (8) by you.


Para pencerita, dengan ”gaya”nya masing-masing, akan menuturkan bagaimana bayangan dan citra Alun-alun yang selama ini tertanam di benak orang banyak justru hadir paling kuat dalam bentuknya yang naratif dan performatif, dalam peristiwa yang mungkin sederhana bagi orang lain, tapi punya makna  mendalam yang mungkin membekas lebih lama dari keragawian (fisikalitas) ruang yang selama ini diyakini langgeng. Karenanya peristiwa-peristiwa itu sesungguhnya bisa dibaca sebagai bentuk pemaknaan, secara performatif maupun naratif, atas Alun-alun sebagai ruang bersama (publik).

ht (2) by you.

ht (1) by you.

Cerita-cerita yang dituturkan kembali  Jamaluddin Latif, Naomi Srikandi, Hindra Setya Rini, Very B. Handayani dan segenap tim pendukungnya ini dilakukan secara serentak dengan berbagai peristiwa lain yang “dirancang” maupun tidak di Alun-alun Selatan. Alih-alih bersaing dengan keriuhan yang sudah berlangsung sebelumnya, rangkaian pertunjukan ini justru berupaya memberi bingkai baru atas “keriuhan” yang ada dengan ajakan untuk terlibat secara lebih aktif, dan kreatif, dalam pengalaman mengisi dan memaknai hari-hari di Alun-alun.

N (2) by you.

N (1) by you.

No Comments.

AudioGuide: Rungon Asik oleh AGN “Jompet’ Kuswidananto

May 17th, 2010 by ferdi
Respond

Melalui peristiwa yang direka oleh AGN Jompet Kuswidananto, dan narasi yang disusun oleh Andre Nurlatif, publik Alun-alun Selatan pada tanggal 28 November 2009 malam diajak untuk “mendengarkan” cerita dari benda-benda yang meruang di sana. Berikut adalah gambar-gambar suasana seputar peristiwa, sementara narasi  audio yang diputar pada malam itu bisa anda unduh dari tautan ini.

ss by you.

ss (3) by you.

ss (2) by you.

ss (1) by you.

No Comments.

Studi atas saat bersenang-senang di Alun-alun Kidul oleh Nuraini Juliastuti

May 3rd, 2010 by ferdi
Respond

1.

Sepanjang hari, Alkid seperti bergerak dan menunjukkan aktivitas-aktivitas bersenang-senang dan menghabiskan waktu luang. Melewatinya di pagi hari, yang akan terlihat adalah orang-orang sedang berolahraga (lari pagi memutari Alkid, ibu-ibu latihan Taichi–khusus hari minggu), orang-orang yang sedang sarapan pagi dengan membeli nasi kuning/bubur ayam/lontong opor. Siang hari selalu terasa lebih lengang. Beberapa pedagang makanan (soto, lontong opor, angkringan) masih setia berada di pinggiran Alkid pada siang hari. Beberapa pasangan tampak duduk-duduk di bawah kerindangan pohon di sudut-sudut lapangan. Menginjak sore hari, para pedagang aneka makanan kecil dan selingan seperti bakso, siomay, tempura, cimol, sup buah, mulai berdatangan. Para pengelola bisnis aneka permainan mulai beraktivitas. becak, sepeda motor, kereta, andong—semuanya berukuran mini—mulai berjajar, siap melayani para pengunjung. Mereka yang menyewakan penutup mata untuk masangin juga mulai bersiap-siap. Anak kecil ditemani para orang tua/kakek-nenek mulai sibuk mencoba aneka permainan. Keramaian ini tidak lantas selesai ketika matahari benar-benar tenggelam. Semakin ramai orang melakukan masangin, di sana-sini bisa disaksikan mereka yang sibuk pacaran. Stan para penjual ronde, jagung bakar, mi goreng berjajar-jajar di sekelilingnya.

Para aktivitas yang bisa dikelompokkan dibawah nama bersenang-senang/bersantai/menghabiskan waktu luang ini membentuk bagian terbesar penggunaan ruang Alkid. Atau mereka diasumsikan sebagai tujuan utama yang ingin dilakukan dalam sebuah ruang publik, karena pada kenyataannya yang terjadi dalam Alkid sendiri pastilah merupakan bentangan peristiwa yang teramat luas dan tidak terbatas pada dimensi bersenang-senang semata. Peristiwa duka cita, tragedi dan sejenisnya dengan demikian sengaja dikesampingkan sementara dalam esai ini.

Rutinitas aktivitas bersenang-senang yang ditampilkan setiap hari (kecuali saat hujan deras, yang tentu saja membuat semua jenis nongkrong di tempat terbuka macam Alkid menjadi sangat tidak nyaman), membuatnya sering jatuh dalam kategori aktivitas trivial yang sering dilewatkan tanpa dipertanyakan.

Dengan keinginan untuk mengeksplorasi apa yang tampak dari permukaan Alkid, tulisan ini diarahkan untuk secara spesifik mempelajari aktivitas bersenang-senang yang berlangsung di sana, strategi penggunaan ruang yang dijalankan, apa yang terjadi dalam ruang yang muncul sebagai produk dari aktivitas tersebut, dan usaha dari para aktor yang berada di Alkid untuk saling mempertukarkan yang dimiliki untuk meningkatkan porsi kebahagiaan yang ingin dicapai. Selanjutnya ia diharapkan untuk bisa memberi pemahaman atas hubungan dinamis antara gagasan waktu senggang (sebagai sebuah konsep mental dan kegiatan sehari-hari) dengan Alkid sebagai sebuah ruang.

[Read more →]

No Comments.

South Square Park oleh Agung Nugroho Widhi

April 30th, 2010 by ferdi
Respond

Southsquarepark adalah proyek media kampanye yang dikembangkan  oleh Agung “Gembong” Nugroho Widhi, yang realisasinya didukung oleh tim Ruanglaba,  sebagai responnya atas Alun-alun Selatan Yogyakarta. Di sini  Gembong mengajukan gagasanya tentang Alkid sebagai” taman hiburan”.Di sisi offline, media kampanye berlangsung dibeberapa lokasi wisata di Yogyakarta. Sementara situs webnya, bisa langsung di klik di sini.

Berikut adalah kutipan catatan yang dibuat Agung Nugroh0 Widhi:

Materi Kampanye Media SouthSquarePark karya Agung N. Widhi

Materi Kampanye Media SouthSquarePark karya Agung N. Widhi

(WELCOME TO) SOUTH SQUARE PARK

Saya dibesarkan di Yogyakarta, dan bertempat tinggal tidak terlalu jauh dari Alun Alun Selatan. Sebuah tempat berupa tanah lapang yang terletak di sebelah selatan (dan sekaligus milik) Kraton Kesultanan Yogyakarta. Menurut saya, kondisi Alun-Alun Selatan yang sekarang jauh berbeda dibanding 4-6 tahun yang lalu, seperti pada umumnya pendapat kebanyakan orang. Bisa dibilang saya baru mulai menyadari perubahan-perubahan ataupun aktivitas yang terjadi di sana kurang lebih semenjak 2-3 tahun yang lalu, pada saat saya banyak menghabiskan waktu di tempat yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Alun-Alun Selatan.

http://southsquarepark.kunci.or.id/wp-content/gallery/gallery/southsquare017.jpg

Southsquare Park oleh Agung N. Widhi

Semua perubahan yang ada di sana selama beberapa kurun waktu terakhir tersebut, bagi saya pribadi, lucu dan tidak terduga. Saya terkadang melihatnya dengan heran, sembari menebak kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan terjadi atau akan ada di tempat itu, selain juga “menertawakannya”.Transformasi atas fungsi atau sifatnya yang dulu (dan) sampai sekarang. Dari awalnya yang serba sakral menjadi menjadi sebuah ruang yang tampak seperti taman hiburan, atau apapun sebutannya. Seorang teman menyebutnya sebagai sesuatu yang sifatnya eksperimental, tapi saya lebih memilih atau merasa nyaman dengan kata “insidentil”. Untuk berbagai macam tujuan, tuntutan dan kemungkinan dari ruang itu sendiri. Yang (salah satu) kemungkinannya, seperti yang selama ini saya lihat dan sedang terjadi, adalah sebuah ruang atau tempat (berupa tanah lapang), yang benar-benar bersifat (dan/atau penuh wahana) hiburan. Accidental amusement park.

http://southsquarepark.kunci.or.id/wp-content/gallery/gallery/southsquare011.jpg

Southsquare Park oleh Agung N. Widhi

Anggap saja South Square Park adalah suatu nama (baru) yang saya buat, berdasarkan impresi saya selama beberapa kurun waktu terakhir ini atas Alun Alun Selatan. Sebuah “taman hiburan” atau tempat yang mungkin secara sifat tidak terlalu jauh berbeda dengan Dunia Fantasi, Taman Impian Jaya Ancol ataupun Disneyland, dalam bentuk yang atau versi yang jauh lebih murah dan serba portable.

Yogyakarta, November 2009

No Comments.

Seri Video Alun-alun karya Anang Saptoto (bag. 2)

April 30th, 2010 by ferdi
Respond

Berikut adalah video-video yang diputar di Warung Handayani:

No Comments.

Seri Video Alun-alun karya Anang Saptoto (bag. 1)

April 30th, 2010 by ferdi
Respond

_mg_4629

Suasana Pemutaran di Warung Handayani

Anang Saptoto Video Presentation

“Alun-alun Series”

Warung Handayani, Alun-alun Selatan

23-25 November 2009, Jam 07.00- 16.00

Baurnya Gelembung-gelembung Aktivitas Keseharian di Alun-alun

Bayangkan setiap subyek individu dikelilingi bola tembus pandang (anda bisa menyebutnya dengan berbagai nama: gelembung, kapsul, selubung atau lainnya) yang bisa membesar dan  menyusut sesuai dengan pola gerak dan besaran aktivitas yang dilakukan subyek tersebut. Peter Sloterdjik,  (dalam Ilya Maharika: 2009) menyebut bentuk ini sebagai sebuah ruang insular, di mana setiap benda dalam ruang punya dinding ”batasnya” sendiri, di mana satu sama lain saling tersambung dalam suatu interaksi, namun pada saat yang bersamaan selalu dipisahkan oleh individualitas masing-masing.

Suasana Pemutaran Video di Warung Handayani

Suasana Pemutaran Video di Warung Handayani

Dalam kasus Alun-alun Yogyakarta, contohnya begini: suatu aktivitas olahraga anak sekolah punya gelembung yang berbeda dengan kegiatan lain yang dilakukan di Alun-alun Utara setiap paginya. Ia terpisah dengan kegiatan orang berdagang di pinggiran lapangan, dengan orang dewasa yang juga berolahraga, seperti misalnya berlari mengitari lapangan, dan aktivitas perparkiran bis-bis wisata di sana. Dalam konteks di luar fungsi dan bentuk kegiatan, masih banyak faktor lain yang turut memisahkan dan mengatur lalu-lintas gelembung-gelembung transparan ini agar tidak bertabrakan. Misalnya, soal perbedaan waktu (pagi, sore sampai malam, Alun-alun selalu diisi kegiatan yang berbeda), kepentingan (spiritual, ekonomi dan politik) dst. Di sisi lain, gelembung sepak bola yang biasa dilakukan para siswa sekolah ini bisa saja membesar begitu, misalnya,  ada anak sekolah lain yang bergabung bermain..Gelembung tersebut juga bisa terhimpit ketika lapangan yang secara rutin dipakai anak-anak bereolahraga ini terisi oleh bis-bis dan mobil wisatawan, dst.  Dengan kata lain, besaran dan susutan (mulur-mungkretnya)  ruang insular aktivitas ini selalu berubah seiring konteks peristiwa yang ada.

Suasana Pemutaran di Warung Handayani

Suasana Pemutaran di Warung Handayani

Seri video yang dipresentasikan untuk publik dan pengunjung Warung Handayani kali ini membayangkan lompatan dan patahan ruang waktu ketika gelembung-gelembung aktivitas yang sejatinya saling bertetangga ini bukan hanya saling bertabrakan tapi berbaur satu sama lain. Bagi subyek yang dibayangkan oleh Anang, mengalami secara langsung berbaurnya gelembung ruang ini, yang dirasakan pertama kali tentu saja kebingungan (disorientasi). Lebih lanjut lagi, kebingungan yang mau direpresentasikan oleh Anang dalam seri video Alun-alunnya ini bukan hanya didirikan atas dampak perebutan ruang. Ia juga menunjuk pada pengandaian tentang kerja sebuah ruang publik, yang selalu dianggap tengah dibangun dalam ruang yang dialami secara bersama-sama, namun di sisi lain cenderung memberlangsungkan aktivitas-aktivitas yang egois (kalau bukan privat), yang saling tidak mengetahui, bahkan saling tidak peduli, dengan yang terjadi di sekitar/sebelahnya. Ia menegaskan tentang kosongnya ”nilai-nilai kebersamaan” sebuah ruang publik ketika ramai aktivitas yang mengisi ruang tersebut tidak pernah diniatkan sebagai sesuatu yang bisa dialami/dibagi bersama pula.

No Comments.

Sekilas Berita

April 20th, 2010 by ferdi
Respond

Fungsi Keraton Ditelan Zaman
Selasa, 20 April 2010 | 02:49 WIB

KOMPAS.COM/M SUPRIHADI

Gapura Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Fungsi simbolik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat beserta bangunannya, dan ruangan lain, mulai ditelan zaman, kata Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Achmad Charis Zubair.

“Masyarakat nyaris tidak mengetahui lagi fungsi simbolik dari keraton termasuk bangunan di sekitarnya seperti Panggung Krapyak, Tugu Pal Putih, Taman Sari, tembok keliling keraton hingga Alun-alun. Bahkan ada beberapa di antaranya telah berubah fungsi,” katanya dalam sarasehan Keraton Yogyakarta dan bangunan cagar budaya, antara purifikasi dan dinamisasi, di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, perubahan fungsi simbolik bangunan dan ruangan di sekitar keraton, selain keraton itu sendiri, telah mengubah dan mempengaruhi dinamika Kota Yogyakarta.

Kota ini, kata dia didirikan untuk dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan tradisional Jawa dan kepentingan Kolonial Belanda.

“Sejak awal pertumbuhannya, Kota Yogyakarta bukan semata-mata kota keraton, tetapi juga daerah sebagai tempat tinggal kaum Kolonial Belanda. Mereka bertempat tinggal di antara keraton dan Benteng Vredeburg,” katanya.

Hal senada diungkapkan Pengageng II Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat RM Tirun Marwito yang mengatakan sejumlah bangunan di kawasan keraton sudah mengalami pergeseran fungsi dari tujuan awal pendiriannya, di antaranya Tugu dan Alun-alun Selatan.

Menurut dia, Tugu Yogyakarta seharusnya berbentuk “golong-gilig” dengan puncaknya bulat, bukan runcing seperti sekarang.

“Makna ’golong-gilig’ adalah mengajarkan pentingnya persatuan dan kesatuan antara pemimpin dan yang dipimpin untuk membentuk negara yang kuat, dan adil dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Sedangkan perubahan fungsi Alun-alun Selatan, kata dia menunjukkan adanya kemerosotan warisan budaya yang tidak tampak. “Seharusnya Alun-alun Selatan selalu dalam kondisi tenang, bukannya ramai seperti sekarang,” katanya.

Ia menyebutkan Alun-alun Selatan merupakan simbol awal mula terbentuknya manusia, sehingga semestinya selalu dalam kondisi sepi.

Tirun yang juga kerabat keraton itu pun hanya dapat berharap pergeseran-pergeseran yang terjadi di kawasan keraton menjadi pelajaran untuk terus bersikap hati-hati.

Penulis: JY   |   Editor: jodhi   |   Sumber : ANT

Kirim ulang dari: Kompas.com

No Comments.

Bagaimana Cara Alun-alun Selatan Bekerja? oleh Yoshi Fajar Kresna Murti

April 19th, 2010 by ferdi
Respond

Photo by Anang Saptoto

Photo by Anang Saptoto

Alun-alun Selatan adalah lautan peristiwa. Siapapun dan apapun bisa tercebur atau menceburkan diri di dalamnya setiap saat. Setelah itu, segera saja ia menjadi “sesuatu” yang akan nampak timbul tenggelam di permukaan. Barangkali ia sempat muncul dan berenang-renang dalam jangka waktu lama atau sesaat saja atau bahkan langsung tenggelam. Posisinya bisa semakin ke tengah atau malah segera menepi. Keberadaannya bisa menimbulkan gelombang atau beriak tenang. Namun, yang jelas, hanya ada sebuah kepastian bagi segala peristiwa yang terjadi di alun-alun, yaitu: tak ada keabadian. Temporer. Fleksibel.

Tulisan berikut ini merupakan sebuah kerangka awal yang masih berupa draf, yang mau menunjukkan bagaimana cara Alun-alun Selatan bekerja. Cara untuk menunjukkannya yaitu dengan melihat Alun-alun sebagai lautan peristiwa: yang temporer dan yang fleksibel. Dalam melihat lautan peristiwa tersebut, penulis mencoba menempatkan Alun-alun Selatan dalam posisinya sebagai: (1) Arena, (2) Ruang, dan (3) Representasi. Dengan menempatkan posisi Alun-alun dalam tiga kedudukannya diharapkan akan terlihat bagaimana lautan peristiwa tersebut masing-masing memberi makna dan peristiwa pada Alun-alun Selatan. Proses ini pada akhirnya akan memberi semacam identifikasi awal untuk memahami karakter dari peristiwa-peristiwa publik Kota Yogyakarta melalui kasus yang terjadi di Alun-alun Selatan.

[Read more →]

No Comments.