SPACE / SCAPE project

SPACE / SCAPE project header image 2

Elephants Gone Missing! (Part 2)

November 12th, 2009 by ferdi

Seberapa penting kehadiran gajah di Alun-alun selatan? Berikut petikan dari wawancara yang kami lakukan sepanjang April-November 2009:

Sebagai pedoman arah dan rujukan peristiwa

Nur Ani: ya aku kan pulang kerja. Padahal sama Diky (anaknya) itu, ya tapi kan nggak dialun-alun. Kebetulan kan aku lewat Alkid itu, Aku kan muterin alun-alun situkan. Pas malam minggu. Aku tuh tahu kalo di belakangku itu ada Mio. Aku kan pulangnya lewat Langenastran. Pas di tempat gajah itu aku mau belok ke barat, aku merasa di situ kok seperti ada yang mbuntutin aku. Tak pikir kan orang situ. Nah kebetulan di situ sedang ada orang kerengan (berkelahi).

Roy: Ya jadian sama istri saya. Di situ kaki lima kan banyak Mbak, di sebelah ujung pojok wetan kulon, sananya Gajah, timur e anu selatan Gajah. Ya pinggir jalan situ. Masih inget.

Bambang: Aku melihat  tawuran antar Gank Motor di depan Gajah. Malam hari setelah lewat jam 9. kemudian polisi datang dan membawa beberapa orang dari mereka.

Mella: Dulu aku sering bingung, sama bangunan yang sekarang jadi kandang gajah, karena waktu itu belum ada gajahnya. Aku lewat sambil berfikir, ini bentuknya seperti rumah, tapi ini rumah buat apa, kenapa atapnya tinggi sekali, macam-macamlah. Aku sering tanya ‘itu buat apa sih itu, karena seperti tinggi dan bolong, kalau buat manusia terlalu besar’, Sampai tahun 89-90an aku baru ngerti kenapa bangunannya seperti itu karena diisi sama gajah, bangunannya pas gitu. Di Sultan X gajah itu baru ada, sebelumnya nggak ada.

Mbak Jeni : Pengalaman yang paling menakutkan itu, pernah Mbak, temanku itu kesambar gledek itu namanya almarhum Mbak Sudi. Kejadiannya itu di bawah ringin itu (ringin depan kandang gajah). Saya sampai berhenti jualan sampai setahun, ngeri Mbak. Itu teman saya sendiri Mbak, waktu itu kalau nggak salah bulan Agustus, pas musim hujan besar-besarnya. Waktu itu dia pas jualan juga, jualan mainan, hari minggu siang, dia langsung meninggal.

Sebagai Pelaku Peristiwa itu sendiri:

Mbah Maidji: Waktu itu Gajahnya ada 2, yang mbok’e ki ngelahirin, terus mati, Mbok’e Gajah kui mati. Ceritane waktu itu hari minggu, biasa tho dinaiki sama anak-anak kuwi, terus Senin-e sakit. Terus dia disuntik, langsung ndeprok. Pas mau dikubur itu yang jantannya nangis, keluar air matanya. Disini itu kayak ada orang sripahan, disini buanyaak banget orang dateng. Disini ada lek-lekan segala, slametan juga. Si gajah yang jantan itu dijodohin sama gajah Gembira Loka, nggak mau. Sampai sekarang cuma berdua sama anaknya. ..Yang kedua, belum lama, masih tahun ini kok, waktu itu saya lagi jualan di pojokan kandang. Saya tiba-tiba didatangi orang katanya dia orang Wonosari, dia sakit ga sembuh-sembuh udah lama. Terus dia berobat ke orang. Pesannya itu dia harus nyari kutu gajah buat obat. Katanya itu bisa menyembuhkan, karna gajahnya juga bukan sembarang gajah, Terus saya antar ke pawang gajahnya, ya dia masuk ke kandang ambil kutu itu.

Devie: Aku ngajak Naya naik gajah di Alun-Alun Selatan dua kali. Pertama kali aku ajak dia aku agak pesimis karna Naya peka sama suara, dia kalau dengar suara ramai sering rewel. Aku pertama kali ke sana sama Naya nyoba naik gajah, ternyata Naya senang. Dia anteng naik gajah, aku juga ikutan, duduk di belakang dia. Aku senang sekali ngelihat dia kelihatannya senang naik gajah sambil ngelihat alun-alun, karena biasanya dia rewel di tempat ramai. Aku senang sekali di hari itu karna pertamakalinya Naya senang di tempat ramai. Kemudian, beberapa bulan setelah itu, aku libur dan aku mengajak Naya ke Alun-alun Selatan untuk naik gajah lagi. ‘Nay, ke alun-alun yuk, kita naik gajah lagi?’ Dia senang sama ajakanku itu. Kita sampai dan langsung menuju ke tempat Gajah. Ternyata lebih ramai dari pertama kali aku kesana, kami antri agak lama. Kemudian, sampai giliran kami. Naiklah kami ke atas gajah. Belum selesai putaran pertama, gajah itu tiba-tiba bunyi sambil kupingnya goyang-goyang. Langsung deh Naya nangis kenceng banget dan dia minta turun. Yah, udah deh Naya ga suka lagi naik gajah. Kalau aku lewat alun-alun sama Naya, Naya jadi takut sama gajah itu.

Mbak Wiwied: Aku kan dagang disini udah 5 tahun. Banyak nggak enaknya Mbak, pernah waktu itu, ada yang nawar e.. gajahnya malah buang kotoran, kan bau tho Mbak, ya ga jadi beli deh dia. Terus pernah lagi, ada yang nawar, dia jongkok, gajahnya lewat, dia kesabet ekor gajah, terus pada lari, ya itu dagangannya keinjak-injak. Pernah ada yang coba ngasih makan gajah, mungkin belum kenal, jadi belum terbiasa, dia dilempar cumplung (sabut kelapa) sama gajahnya. Gajah kan lewat sini cuma kalau sore, pernah kayaknya gajahnya baru minum, terus dia nyembur air, ya udah dagangannya basah semua. Tapi ya pedagang kan nggak boleh menyalahkan hewan. Yang laki-laki itu namanya Argo, yang agak nakal itu yang kecil itu. Kita yang dagang disini sering dapat teguran untuk jaga kebersihan karena dulu yang betina mati karena makan plastik. Ini saya gabung di paguyuban, saya ada kaosnya Mbak, ada gambar gajahnya. Tiap minggu ada distribusi buat makanan gajah Rp 2000,- Makanan gajahnya daun tebu, terus bekas kelapa muda dari tukang degan yang udah nggak ada buah kelapanya, jerami, macam-macam. Pernah ada pengunjung lagi makan sate, ditampel sama telalainya.

1 Comment

Leave a Comment

1 response so far ↓

  • soal gajah, aku jadi ingat waktu TK…
    ibu guruku tanya: siapa yang pernah lihat gajah? aku langsung angkat tangan dan menjawab: saya bu!
    ibu guru bertanya lagi: dimana kamu melihat gajah?
    aku menjawab lagi: di TV…
    tentu saja semua temanku tertawa mencibir…karena sebagai orang yang lahir di Sumbawa tidak pernah kami melihat gajah secara langsung, kecuali kalo ke kebun binatang yang ada di pulau Jawa.
    Dan, saya baru benar2 melihat gajah secara langsung di alun-alun kidul ketika saya mulai kuliah di UGM tahun 1998 hehehe